Padahal, BTPN telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham yang menunjuk dewan direksi dan komisaris menggantikan manajemen lama. Persetujuan sebagai pemegang saham pengendali oleh BI juga belum dikantongi Admiro.
"BI belum menerima permohonan fit and proper test terhadap jajaran pengurus baru BTPN ataupun memberikan persetujuan atas perubahan pemegang saham pengendali," ujar Kepala Biro Komunikasi BI Rizal A. Djaafara kepada Bisnis akhir pekan lalu.
Selain itu, PT Perusahaan Pengelola Aset sebagai pemegang 28,39% saham di BTPN sampai sekarang belum mendapatkan pemberitahuan secara resmi mengenai masuknya Admiro. "Sampai saat ini secara formal kami belum mendapatkan pemberitahuan," kata Dirut PPA Muhammad Syahrial.
Saat ini, Admiro telah menempatkan sejumlah wakilnya di BTPN melalui Ra-pat Umum Pemegang Saham yang berlangsung dua pekan lalu. Wakil yang ditempatkan oleh Admiro dikenal dekat dengan Recapital Investment Bank seperti Rosan yang menjadi Presiden Direktur dari perusahaan investasi itu.
Dirut BTPN Herman Sugiarto ketika di-konfirmasi Bisnis membenarkan telah terjadi perubahan dalam jajaran direksi maupun komisaris. Menurutnya Rosan terpilih sebagai komisaris utama didampingi Bambang Herianto dan Hari Harto-no Hadianto. Sedangkan posisi direktur, menurut Herman, dikurangi dari tujuh menjadi empat. "Ada dua yang lama yaitu saya sendiri dengan Taufik Hakim."
Dua direksi baru masing-masing Syahrial Nawawi dan Gandhi Ganda Putra. Syahrial pernah bekerja di Bank Permata, Bank Universal serta Credit Lyonnais Securities Asset, sementara Gandhi Ganda Putra sebelumnya pernah bekerja di Bank Niaga dan Bank Danamon.
Herman menjelaskan BTPN berencana melakukan penawaran saham perdana pada tahun 2006. Namun dia tidak merinci berapa porsi saham yang akan dilepas di pasar modal.
"Kami juga akan melakukan diversifi-kasi produk dan konsolidasi dalam bi-dang SDM,"katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, Admiro Corp.
menandatangani perjanjian jual beli bersyarat atas 71,6% saham BTPN pada 7 Desember lalu de-ngan harga 1,75 kali nilai buku bank tersebut per September 2005.
Sisa saham setelah proses akuisisi tersebut yakni dikuasai ole PPA dengan 28,39%. Admiro mengambil alih saham BTPN dari tiga pemilik lama yakni Bakrie Capital 10%, Grup Rifan 22,61%, Danatama Makmur 18%, dan Fuad Mansur sekitar 20%.
BTPN merupakan salah satu aset perbankan milik pemerintah yang diarahkan untuk lebih berpihak kepada kepentingan para pensiunan pegawai negeri sipil. Bank itu kini memiliki 28 cabang, dan 65 cabang pembantu.
Per Mei 2005, BTPN memiliki aset lebih dari Rp3,9 triliun dengan perolehan laba bersih sebesar Rp80 miliar. Nilai akuisisi saham BTPN itu ditaksir mencapai Rp903 miliar. (munir.haikal@bisnis.co.id)
Oleh M. Munir Haikal Bisnis Indonesia
[www.bisnis.com, 28 Desember 2005]
( Link Sumber )