JAKARTA: Admiro Corp, investor yang membeli 71,61% saham di PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, berencana menambah porsi kepemilikannya di bank itu dengan membeli 28,39% saham PT Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA).
Rencananya, PPA akan melepas saham BTPN pada triwulan I/2006 dan tengah menunggu penetapan nilai dari menteri keuangan dan momentum pelepasan yang tepat.
Presiden Direktur PT Recapital Investment Bank Rosan P. Roeslani mengatakan pihaknya telah melakukan pembicaraan informal dengan PPA mengenai kemungkinan pembelian saham BTPN milik BUMN itu. Recapital, memiliki mayoritas saham di BTPN melalui kepemilikannya di Admiro.
"Kami memang mempunyai rencana untuk membeli saham BTPN yang dimiliki PT PPA. Tentunya dengan catatan harga saham yang dijual sesuai dengan ekspektasi kami," ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Rosan mengaku pihaknya telah melakukan pembicaraan informal dengan PPA untuk menambah kepemilikannya di BTPN. "Secara lisan sudah kami sampaikan kalau kami berminat membeli saham BTPN. Mengenai harga belum ada pembicaraan yang lebih detail."
Admiro merupakan pemegang saham baru BTPN yang menandatangani perjanjian jual beli bersyarat atas 71,6% saham pada 7 Desember 2005 dengan harga 1,75 kali nilai buku. Investor tersebut membeli dari pemilik lama yakni Bakrie Capital 10%, Grup Rifan 22,61%, Danatama Makmur 18%, dan Fuad Mansur sekitar 20%.
Sekretaris Perusahaan PPA Renny O. Rorong ketika dikonfirmasi menyatakan sedang menunggu penetapan nilai dari Menkeu terhadap saham BTPN. "Kami harapkan penetapan harga lebih tinggi dibandingkan dengan harga saham yang dibeli oleh Admiro sebelumnya."
Menurutnya, Admiro memang mendapatkan kesempatan pertama sebagai pemegang preemptive right (hak membeli saham lebih dahulu). "Kalau sepakat kami lepas tetapi kalau tidak kami cari investor lain."
Dalam mengakuisisi saham BTPN yang pertama, Recapital memperoleh pendanaan sekitar US$46 juta yang diatur oleh Credit Suisse First Boston. Dana yang akan diperoleh dari fasilitas pinjaman ini diperkirakan mencapai 60% dari 71,6% saham yang akan diakuisisi.
Suntik modal
Rosan menuturkan pihaknya juga memastikan akan membawa modal untuk memperkuat BTPN sehingga bisa lebih cepat melakukan ekspansi kredit.
"Sekarang kami menunggu laporan dari manajemen mengenai keperluan dana untuk memperkuat BTPN. Namun, saat ini rasio kecukupan modal BTPN masih dalam posisi yang sangat memadai yaitu sebesar 25,9%."
Sebelumnya BTPN berencana melakukan penawaran saham perdana pada 2006 seiring dengan masuknya Admiro Corp yang menguasai 71,6% saham bank itu. BTPN adalah bank yang melayani kepentingan para pensiunan pegawai negeri sipil. (munir.haikal@bisnis.co.id)
Oleh M. Munir Haikal Bisnis Indonesia
[www.bisnis.com – 02 Februari 2006 ]
( Link Sumber )
Rencananya, PPA akan melepas saham BTPN pada triwulan I/2006 dan tengah menunggu penetapan nilai dari menteri keuangan dan momentum pelepasan yang tepat.
Presiden Direktur PT Recapital Investment Bank Rosan P. Roeslani mengatakan pihaknya telah melakukan pembicaraan informal dengan PPA mengenai kemungkinan pembelian saham BTPN milik BUMN itu. Recapital, memiliki mayoritas saham di BTPN melalui kepemilikannya di Admiro.
"Kami memang mempunyai rencana untuk membeli saham BTPN yang dimiliki PT PPA. Tentunya dengan catatan harga saham yang dijual sesuai dengan ekspektasi kami," ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Rosan mengaku pihaknya telah melakukan pembicaraan informal dengan PPA untuk menambah kepemilikannya di BTPN. "Secara lisan sudah kami sampaikan kalau kami berminat membeli saham BTPN. Mengenai harga belum ada pembicaraan yang lebih detail."
Admiro merupakan pemegang saham baru BTPN yang menandatangani perjanjian jual beli bersyarat atas 71,6% saham pada 7 Desember 2005 dengan harga 1,75 kali nilai buku. Investor tersebut membeli dari pemilik lama yakni Bakrie Capital 10%, Grup Rifan 22,61%, Danatama Makmur 18%, dan Fuad Mansur sekitar 20%.
Sekretaris Perusahaan PPA Renny O. Rorong ketika dikonfirmasi menyatakan sedang menunggu penetapan nilai dari Menkeu terhadap saham BTPN. "Kami harapkan penetapan harga lebih tinggi dibandingkan dengan harga saham yang dibeli oleh Admiro sebelumnya."
Menurutnya, Admiro memang mendapatkan kesempatan pertama sebagai pemegang preemptive right (hak membeli saham lebih dahulu). "Kalau sepakat kami lepas tetapi kalau tidak kami cari investor lain."
Dalam mengakuisisi saham BTPN yang pertama, Recapital memperoleh pendanaan sekitar US$46 juta yang diatur oleh Credit Suisse First Boston. Dana yang akan diperoleh dari fasilitas pinjaman ini diperkirakan mencapai 60% dari 71,6% saham yang akan diakuisisi.
Suntik modal
Rosan menuturkan pihaknya juga memastikan akan membawa modal untuk memperkuat BTPN sehingga bisa lebih cepat melakukan ekspansi kredit.
"Sekarang kami menunggu laporan dari manajemen mengenai keperluan dana untuk memperkuat BTPN. Namun, saat ini rasio kecukupan modal BTPN masih dalam posisi yang sangat memadai yaitu sebesar 25,9%."
Sebelumnya BTPN berencana melakukan penawaran saham perdana pada 2006 seiring dengan masuknya Admiro Corp yang menguasai 71,6% saham bank itu. BTPN adalah bank yang melayani kepentingan para pensiunan pegawai negeri sipil. (munir.haikal@bisnis.co.id)
Oleh M. Munir Haikal Bisnis Indonesia
[www.bisnis.com – 02 Februari 2006 ]
( Link Sumber )
0 comments:
Post a Comment