Tuesday, December 27, 2005

09 Desember 2005


Admiro akuisisi 71% saham BTPN


JAKARTA: Admiro Corp. telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat atas 71,6% saham PT Bank Tabungan Pembangunan Nasional pada dua hari lalu dengan harga 1,75 kali nilai buku bank tersebut per September 2005. Beberapa sumber Bisnis mengatakan Admiro Corp. merupakan perusahaan kendaraan yang dibuat dengan tujuan khusus oleh Recapital Investment Bank. Sebelum dilepas kepada Admiro, BTPN dikuasai oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) 28,39%, Bakrie Capital sekitar 10%, Grup Rifan 22,61%, Danatama Makmur 18%, dan perorangan yaitu Fuad Mansur sekitar 20%. BTPN memang merupakan salah satu aset perbankan milik pemerintah yang diarahkan untuk lebih berpihak kepada kepentingan para pensiunan pegawai negeri sipil. Nilai akuisisi saham BTPN itu ditaksir mencapai Rp903 miliar, setara dengan US$90,3 juta atau sebesar 1,75 kali nilai buku perusahaan periode 31 Mei 2005 sebesar Rp721 miliar (US$72,1 juta). Ketika dikonfirmasi, Presiden Direktur Recapital Investment Rosan P. Roeslani mengatakan belum dapat berkomentar banyak soal transaksi itu. "Saat ini saya tidak dapat berkomentar." Dirut PPA Mohammad Syahrial juga mengatakan pihaknya tidak tahu menahu dengan masuknya investor baru ke BTPN. Sumber tadi menambahkan dalam mengakuisisi saham BTPN, Recapital memperoleh pendanaan sekitar US$46 juta yang diatur oleh Credit Suisse First Boston. "Dana yang akan diperoleh dari fasilitas pinjaman ini diperkirakan mencapai 60% dari 71,6% saham yang akan diakuisisi. Untuk perolehan dana ini, investor tersebut telah menunjuk Credit Suisse sebagai pengatur fasilitas pinjaman itu," ujarnya. Pinjaman itu diketahui berjangka waktu tiga tahun dengan tingkat bunga Libor+5% untuk tahun pertama, Libor+7% (tahun kedua), dan Libor+9% untuk tahun ketiga. Dalam melakukan peminjaman ini, investor tersebut memberikan jaminan berupa 71,6% saham BTPN dan jaminan lainnya kepada kreditornya. Transaksi jual beli saham BTPN kepada Admiro Corp. kemungkinan besar seperti yang dilakukan pada penjualan saham PT Excelcomindo Pratama Tbk kepada Telekom Malaysia. Masuk bursa 2006 Pengalihan saham BTPN kepada Admiro kemungkinan dilakukan saat bank itu merealisasikan penawaran umum perdana yang dijadwalkan triwulan I tahun depan. Namun, hingga kini belum ditetapkan penjamin emisi yang akan membantu rencana tersebut. Dalam penawaran umum perdana BTPN itu, jumlahnya diperkirakan mencapai 30% saham di mana PPA dapat sekaligus melepas saham sebagai rencana keluar dari bank tersebut. BTPN memiliki 28 cabang, dan 65 sub cabang. Perusahaan ini memiliki asset lebih dari Rp3,9 triliun dengan perolehan laba bersih pada 31 Mei 2005 sebesar Rp80 miliar. Dirut BTPN Herman Sugiarto mengatakan tidak mengetahui penandatangan perjanjian jual beli bersyarat yang dilakukan pada Rabu malam antara pemegang saham dengan investor baru. "Para pemegang saham memang bermaksud menjual saham cuma sampai saat ini belum sampai ke arah sana. Setahu saya yang sudah melakukan uji tuntas adalah HSBC sesuai permintaan pemegang saham untuk bertindak sebagai penasehat keuangan," ujarnya. Sekretaris Perusahaan PPA Renny O. Rorong menambahkan PPA akan melepas seluruh saham BTPN mulai tahun depan. Namun, mekanismenya masih menunggu persetujuan dengan menteri keuangan yang baru. Semula, PPA telah menyiapkan dua opsi untuk menyikapi perkembangan baru di pasar mengenai rencana akuisisi BTPN. Pertama, menjual sekaligus sahamnya bersamaan dengan penjualan yang dilakukan oleh pemegang saham lainnya. Kedua, menunda penjualan apabila investor yang akan masuk ke BTPN dinilai mempunyai prospek yang bagus.


(munir. haikal@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id) Oleh M. Munir Haikal & Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia [www.bisnis.com – 09 Desember 2005]

0 comments: